Kutunggu Kau Disurga
oleh : Lina Wati Dewi


kunanti dirimu disurga


Namaku kirana, aku adalah seorang wanita yang manja, sensitif dan mudah emosi, namun banyak yang bilang aku peduli sesama. Aku tidak cantik, namun banyak yang bilang aku manis dengan senyumku.  Layaknya wanita yang lain, akupun punya rasa suka terhadap lawan jenisku. Dan dalam kasus ini aku menyukai pria yang bernama Alan.
Alan adalah orang yang baru aku kenal diperantauan, Pinrang, Sulawesi. Alan adalah anak Sumatera yang pindah ke Pinrang saat ia berusia 13 tahun. Ia memiliki 2 orang adik dan seorang ayah yang ditinggal oleh ibunya. Hal ini membuat Alan menjadi pribadi yang tegar. Memiliki sosok keibuan bagi adik-adiknya dan berpenampilan sederhana, Ia bahkan tidak memiliki akun Instagram  yang sedang marak dikalangan anak muda jaman sekarang, tidak terlalu eksis di medsos lain, ia hanya menggunakan bbm sebagai sarana berkomunikasi.  Alan pun memakai pakaian yang sederhana, walau dapat dibilang ia adalah anak orang berada. Ayahnya adalah pemilik perusahaan Makanan besar di Pinrang.  Kesederhanaan itu yang aku suka.
****
Kebetulan kami berada dalam universitas yang sama, namun fakultas yang berbeda. Kami bertemu lewat suatu UKM universitas, yaitu PMI. Dari sana kami berkenalan, sedikit bercerita, bertukar pin bbm dan kamipun mengungkapkan perasaan satu sama lain, hingga pada akhirnya kami berstatus pacaran.
Diawal pacaran, kita harmonis, saling memotivasi, saling toleransi dan saling menjaga. Banyak hal-hal yang kami rasa positif kami lakukan. Kami ikut organisasi yang ada difakultas kami masing-masing , kami sama-sama sibuk, namun tetap saja kami saling memotivasi, karena bagi kami ini adalah proses untuk masa depan yang lebih baik dari kami. Saat itu terasa bahwa Alan segalanya dan mungkin baginya adalah sebaliknya.
Hingga suatu hari, sekitar 8 bulan kita pacaran, aku merasa lelah dengan semuanya, aku merasa dia terlalu sibuk dan tidak ada waktu untukku. Aku merasa bahwa aku tak ada apa-apanya dimatanya. Aku merasa bahwa organisasinya lebih penting baginya. Aku cemburu, cemburu jika ada hal-hal lain yang lebih ia pentingkan daripada aku. Aku benar-bear bergemuruh saat itu, aku tak tahu apa yang seharunya aku lakukan.
Hingga pada Sabtu malam, tepat hari dimana kita jadian aku memaksakan untuk meninggalkan semua agendaku dan ingin sekali bersama dengan Alan, bercerita tentang kegelisahan yang aku rasakan. Kulirik arlojiku menunjukkan pukul 19.43 WITA. “belum terlalu malam” pikirku. Kuambil telepon genggam lalu ku bbm Alan.
Aku : lagi dimana?
Alan : kampus sayang
Aku : bisa bertemu sebentar? Aku tunggu di Rumah Makan Padang depan Kos-kosanku. (ketusku tanpa berfikir kalau-kalau ia benar-benar sedang sibuk)
Bebrapa menit kemudian..
Alan : 10 menit lagi ya aku kesitu
Tanpa membalas pesan dari Alan, aku bersiap-siap untuk menuju RM Padang, walau hati agak tak menentu, tetap saja aku mencoba terlihat sedikit rapi dimatanya. Kukenakan baju terbaik yang aku punya dengan kerudung yang menambah penampilanku terlihat lebih elegan. Ya, aku suka simple namun elegan.
Selesai merapihkan diri aku lalu meluncur ke RM padang depan kos-kosan. Tanpa kusangka Alan malah lebih dulu disana. Memang kau agak telat karena agak kesulitan menyebrang jalan raya besar yang ramai saat malam minggu.
Aku : Sudah lama? Maaf aku telat
Alan : gak papa kok, aku juga baru sampai sekitar 1 menit yang lalu (sambil melirik arlojinya)
Aku : (duduk didepan Alan sambil tersenyum) Makasih
Kamipun memesan makanan kesukaan kami masing-masing, Alan memsan Nasi dan ayam goreng beserta Es the, sedngkan aku memesan nasi ikan pindang dan air putih. ya, kami memiliki selera yang berbeda. Sebelum pesanan datang aku membuka sedikit percakapan
Aku : Bagaimana kegiatan-kegiatanmu? Lancar?
Alan : syukurlah, bagaimana dengan kamu?
Pertanyaan-pertanyaan  kaku  dan biasa yang seperti bukan sepasang kekasih selalu saja terucap. Rasa bosan dengan percakapan yang demikian, aku lalu memberanikan diri untuk memulai mengatakan keresahan itu..
Aku : Alan.. aku bosan
Alan : bosan apa sayang?
Belum sempat aku menjawab pertanyaan Alan, pesanan kami datang.
Aku : nah, pesanan udah datang, makan dulu aja ya..
Alan mengangguk dan mengiyakan, karena ia tahu aku tidak suka makan sambil berbicara.
****
Setelah selesai makan dan membayar, kami tetap duduk ditempat kami.
Alan : tadi katanya bosan, ada apa?
Aku : tidak, hanya bosan saja.
Alan : bosan terhadap apa? Ketika kita bosan pasti ada hal yang kita bosankan dan pasti ada sebab untuk bosan bukan. Aku tak mau jika kamu memendam sendiri.
Aku : aku bosan sama kita yang kaya gini. Aku bosan kamu terlalu sibuk, Aku bosan kamu yang tidak ingat dengan tanggal jadian, aku bosan dengan percakapan kaku, aku bosan dengan semua, aku bosan lan ! (kataku dengan nada tinggi dan sesak karena jiwa yang bergejolak, ada rasa plong saat berkata, anmun setelahnya ada juga rasa khawatir hadir, takut-takut kalau Alan marah.)
Alan : (dengan tenangnya ia berkata) maaf sayang, aku sudah begini, maaf sekali. Lalu mau kamu apa?
Aku : aku gak tahu. Aku bosan !
Alan : kamu sayang sama aku?
Aku : iya
Alan : aku juga sayang sama kamu Na.. ingin sekali melihatmu bahagia, namun ternyata kamu tak begitu bahagia bersamaku, aku harus apa? Kuserahkan padamu
Melihat Alan yang selalu mengalah dan terlihat tenang mebuatku lebih jengkel.
Aku : kamu bilang sayang? Tapi kenapa kamu sekarang bahkan tenang saat aku berkata seperti ini? Mengapa selalu terserah aku? Mengapa? Tak bisakah kamu sedikit lebih tegas dengan mengungkapkan apa mau kamu?
Alan : aku menyayangimu
Aku : ah, man buktinya? Dengan terlalu sibuk dikampus? Ah, kamu membuat aku bosan. Sungguh. Mungkin lebih baik kita tak usah bersama lagi.
****
Tanpa perduli dengan jawaban Alan, aku melangkah pergi.
Aku yang sebenarnya bertahan diorganisasi PMI karena Alan, akhirnya memutuskan untuk berhenti dari organisasi itu. Aku tak mau lagi bertemu Alan. Dan Alanp[un sepertinya berhenti menghubungi aku. Ia sama-sekali tak memberikan kabar kepadaku, hal ini membuat aku yakin bahwa Alan memang tidak begitu menyayngi aku.
Hari berganti hari.. masih biasa..
Minggu berganti minggu.. masih biasa..
Hingga bulan berganti bulan, aku merindukan sosok Alan hadir, aku rindu sms kaku yang biasa ia kirimkan. Ah.. aku sungguh merasa apa yang aku lakukan adalah benar-benar sebuah kesalahan besar. Aku resah.
Hari itu, karena sangat resah, aku putuskan untuk pergi kesebuah taman. Aku berniat mengisi kekosongan yang ada. Aku ketaman sendiri, dengan memakai motor Beat putih aku melaju kesana. Dengan membayar Rp.2500,- aku sudah bisa masuk ketaman kota ini. Aku berkeliling melihat liat sekitar. Ada anak-anak yang sangat ceria bersama ibunya dan pemuda-pemudi sedang pacaran. Hingga kuliat ada suatu pemandangan yang benar-benar menyakitkan, kulihat Alan bersama Sri, sahabatku berdua sedang mengobrol. Ah, atmosfer begitu sesak kali ini. Ternyata selama ini Alan tidak menghubungi aku lagi karena ia dekat dengan Sri? Ternyata mungkin saja selama ini saat kita pacaran Sri sering menemani Alan ke taman? Sedangkan aku? Belum pernah ke taman bersama Alan.
Daduku seperti dipukul oleh palu yang besar, sakit. Seperti sudah tak ada udara yang masuk ke paru-paru, sesak. Mataku seperti kemasukan sambal berkilo-kilo, perih. Tak dapat dihindarkan, mata banjir. Aku berlari sekuat tenaga, dan sempat kulihat Sri mengetahui keberadaanku. Namu aku tak peduli. Yang aku mau sekarang hanya lari. Pergi.
Aku berkendara, dengan kecepatan yang lumayan sambil sesekali aku mengusap air bening yang membanjiri mata bulat ini, aku tak peduli dengan sekitar. Yang aku tahu, aku sedang sakit sekarang. Hingga saat lampu merah, ada sebuah sepeda motor berhenti dibelakangku, dan memanggil namaku. “Nana”. Sebuah panggilan sayang dari seseorang yanng aku tahu, ya itu Alan. Kucoba menegok kebelakang, iya itu benar-benar Alan, namun ia sendirian, lalu kemana Sri? Mungkin Sri takut kalau-kalau aku tambah marah. Ah, whatever pikirku.
Saat lampu lalu lintas kembali hijau, langsung ku gas motorku, begitupun Alan, ia mengikutiku,. Aku melaju benar-benar dengan kecepatan tinggi. Namun Alan tetap saja bisa membuntutiku, hingga tiba-tiba “BRAKKK” suara benturan keras dan suara klakson mobil dan motor beriringan.au tak peduli, aku tetap melaju. Dan sampai dikos aku menangis sejadi-jadinya, hingga tertidur.
Saat aku membuka mata, kulihat 16 misscall dan 1 pesan dari Sri, semula aku tak ingin membaca pesan itu karena mungkin itu hannya pesan permohonan maaf darinya. Namun, aku tetap membuka pesan itu.
“Kirana temanku, kuharap kamu bisa datang kesini, RSUD Pinrang ruang ICU, Alan kecelakaan”
Ah, mungkinkah tadi? Saat suara klakson ramai? Saat terdengar suara benturan keras? Apakah itu Alan? Tanpa bertanya-tanya lagi, aku langsung menuju ICU, namun sudah kosong. Lalu aku telpon Sri, dan ia mengatakan Alan sudah dibawa kerumah, dan ia menyuruhku kesana.
Dalam perjalanan, aku sedikit lega, karena mungkin Alan tidak terlalu parah sehingga langsung dibawa kerumah, namun kenyataan berkata lain saat aku sampai dipelataran rumah. Terdengar suara isak tangis sanak saudara dan bendera duka telah berkibar. Ya, Alan telah pergi. Orng yang tak ingin aku temui lagi sekarang bemnar-benar takkan kutemui lagi. Aku berjalan kedalam rumah. Kuliat tubuh itu telah terbungkus kain dan banyak orang disekelilingnya menangisi Alan.
Kakiku gemetar, lemah dan akhirnya aku tersimpuh, tak dapat jua kutahan air mata yang membanjiri mata.
“Kirana” sebuah suara menghampiri aku, lalu ia memeluku. “Sri?” aku memeluknya.

****
Semenjak kepergian Alan, aku menjadi pendiam. Aku tak manja lagi. Aku pun tak mampu membuka hati lagi. Aku lebih senang sendiri dengan gadgetku. Kubuka IG : @alansyah dan kubaca postingan beberapa tahun lalu. Yang menceritakan betapa berharganya aku, betapa manjanya aku dan betapa istimewanya aku bagi seseorang.
"jika didunia kita masih dapat salah paham, maka kutunggu kau disurga"


Komentar